Pakai Topeng, menyiasati Harimau…….

Sebagai makhluk pemangsa soliter, harimau memiliki teritori sebagai daerah hunian dan areal perburuannya. Daerah jelajahnya sampai 50-an km2 per ekor. Teritorinya ditandai dengan bau percikan air kencing dan kotorannya. Geraman dahsyatnya sebagai bunyi isyarat pemilik teritori, terdengar sampai lima kilometeran.

Harimau suka poligami alias punya pasangan banyak, dan mencari betina pada musim kawin saja. Setelah kawin dan betinanya hamil maka si harimau jantan akan pergi berburu mangsa dan betina lain. Tak pernah harimau jantan hidup berkelompok dengan betina dan anak-anaknya seperti singa Afrika.

Tiap hari harimau dewasa butuh daging sekitar 7 – 9 kg. Sedangkan harimau betina dengan tiga anak harimau yang belum disapih, setidaknya makan daging 280 kg per 28 hari. Berburu mangsa pun tidak mudah, sebab ia tidak sepandai macan tutul dalam memanjat pohon. Dalam suatu pengamatan di India, seekor harimau sampai harus berpuasa tiga hari untuk membuntuti kawanan rusa, sebelum berhasil mendapatkan seekor anak rusa.

Meski lebih suka membunuh binatang kecil yang tak berbahaya, kalau harimau sudah kelaparan binatang besarpun aklan dimangsa. Misalnya ksaus yang disaksikan oleh peneliti India, seekor harimau menerkam seekor kerbau seberat 700 kg. Ada yang lebih aneh, petugas cagaralam india itu melihat dua harimau bekerjasama membunuh seekor gajah besar.

Istilah harimau maneaters sebenarnya untuk menyebutkan keganasan harimau benggala di India, tepatnya di distrik Sunderlan yang berbatasan dengan Bangladesh. Harimau di India mulai terganggu semenjak penduduk makin merambah hutan habitat, serta ikut-ikutan membunuh rusa dan babi hutan – mangsa harimau.

Sejak 30-an tahun lalu, dilakukan studi terhadap harimau maneaters. Hasilnya menyatakan, tidak semua harimau membunuh untuk memakan daging manusia. Juga tidak tepat dikatakan sang maneaters kecanduan daging empuk manusia.

Beberapa kasus pembunuhan bermula kala harimau itu bertemu dengan manusia dan dalam keadaan panik harimau itu menyerang manusia yang tidak jarang menimbulkan korban jiwa. Juga ada kasus, induk harimau yang baru melahirkan terpaksa menyerang manusia yang mendekati gua persem-bunyiannya, karena khawatir anaknya diganggu. Pernah terjadi, beberapa manusia mati dibunuh harimau gila atau harimau penderita rabies.

Mengingat jatuhnya korban sergapan harimau maneater mencapai 60 – 120 jiwa setiap tahun, India mengadakan ” Operasi Harimau ” untuk melin- dungi manusia dan harimau. Selain mendapat penyuluhan, penduduk desa sebaiknya berjalan sambil mengenakan topeng terbalik, yakni mengenakan topeng di kepala bagian belakang, agar harimau tidak menyergap, karena menyangka manusia itu berjalan mundur.

(Intisari, 2002)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s