Zero..

Hari pertama di tahun 2010… thank’s God… masih diberi kesempatan untuk hidup dan menghirup oksigen. Ketika kita berhenti sebentar dari keruwetan hidup dan sejenak memandang dedaunan, pohon-pohon yang tertiup angin lembut dan sinar mentari yang mengintip di sela-selanya, lalu sayup-sayup suara burung-burung kecil yang bermain di ranting-ranting pohon hmmm.. nyaman dan damainya.

Ketika kita tidak bisa lagi menikmati semua keindahan itu, memang semua masalah kehidupan akan benar-benar menyesakkan dada sehingga di akhir 2009 kemarin begitu banyak kasus bunuh diri, terjun bebas, minum racun, memotong urat nadi dsb. Bagi yang belum pernah merasakan suatu masalah hidup yang begitu menekan dan rumit sampai terasa tidak ada jalan keluar, memang akan berkata ” konyol sekali sampai mau bunuh diri “.

Kehidupan memang penuh dengan misteri, ada banyak hal yang terjadi sering kita tidak pahami mengapa harus terjadi seperti itu. Ada satu kasus bunuh diri yang sampai detik saya menulis tetap menjadi sebuah tanda tanya yang begitu besar hingga saya setiap hari selalu bertanya dalam hati ” meng -apa  dan kenapa harus terjadi ” karena penyebab yang sebenarnya sudah dibawa ke liang kubur.  Kasus ini terjadi pada orang yang begitu dekat, masih ada hubungan darah, beliau memiliki kehidupan yang bagi saya perfect banget. Beliau adalah orang yang smart, memiliki karir yang sangat cemer -lang dan tentu secara materi berlimpah ruah, memiliki keluarga istri cantik, anak-anak yang hebat apa lagi yang kurang ??? dibandingkan kasus bunuh diri satu keluarga karena keadaan mereka begitu miskin sehingga sang ayah mengajak seluruh keluarganya minum racun, tentu kasus orang kaya ini sangat ‘aneh’ penyebabnya. Walaupun ada sedikit info yang mengatakan berbagai macam kemungkinan sebabnya, tetapi tetap bagi saya ini begitu aneh dan penuh misteri.

Ternyata tidak sepenuhnya materi akan membuat jiwa kita tentram, tidak sepenuhnya sanggup memiliki segalanya akan membuat jiwa kita bahagia. Kebahagiaan yang dalam terdapat di hati kita, ketika kita mampu mensyukuri apa yang telah kita miliki, dan ketika kita masih bisa menikmati dan merasakan hangatnya cinta kasih dari suami, anak, orang tua, saudara-saudara. Satu hal ketika cinta kasih tidak lagi hangat dan indah dalam suatu rumah tangga, setiap hari dipenuhi dengan pertentangan sementara tak ada waktu untuk memperbaikinya karena tertekan oleh rutinitas, sementara uang dijadikan pelarian rasa kesepian sehingga semua akhirnya bergulir tanpa arah lagi, muncul rasa frustrasi, depresi sementara hubungan yang semakin rusak, tak ada jalan keluar, karena semua tak mau saling mendengar. Di akhir hanya tertinggal rasa lelah yang luar biasa menghadapi hidup ini, putus asa, jiwa yang kosong, letih, dan kering tanpa cinta dan kasih sayang, lalu munculah pikiran ” buat apa hidup ” lebih baik mati saja, mungkin inilah penyebab awal karena saya merasakan ada penyebab lain yang begitu menghancurkan sehingga saudara saya memilih untuk bunuh diri.

So sad… ya sangat menyedihkan, mengapa banyak orang melakukan hal tersebut. Sementara ada orang-orang yang begitu ingin diberi kesempatan lebih lama ada di dunia, seperti Bapak kita tercinta Gus Dur beliau begitu menderita dengan penyakitnya harus sering cuci darah, penghlihatan yang kurang baik, harus ada di kursi roda dan tentu rasa sakit yang sering diabaikan oleh beliau. Tetapi lihatlah semangat dan keinginannya untuk bisa melakukan sesuatu bagi banyak orang sampai mengalami percobaan 3x pembunuhan (ini dari Gus Dur sendiri loh yang bilang waktu di Tv one). Beliau tetap bersemangat dan menikmati hidupnya walau dengan keterbatasannya, lagi-lagi saya tersadar bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai ketika diri kita membawa arti bagi semua orang, semua kalangan. Ketika kita tidak egois mementingkan diri sendiri, membuka hati bagi semua orang, memberikan diri bagi yang membutuhkan… that’s inner happiness … .

That’s true… saat kita hidup bagi diri sendiri, memang terasa semua masalah sangat pelik, tetapi satu kali saja kita bisa membuat orang terdekat atau orang lain tersenyum… is more than everything.

Ada saat dimana dalam hidup ini kita berada di titik nol, nol adalah ketika tidak memiliki apapun, bukan siapapun, just nothing. Bagi beberapa orang, tidak sanggup menjalaninya karena siapa yang tidak kalut berada di situasi itu. This is a true story … hah… sad story.. but give me second chance to make a better live. Beneran, ketika menghadapi suatu pembelajaran dari Tuhan untuk hidupku, saat itu saya terlalu bandel untuk disadarkan dengan cubitan, sehingga suatu tamparan keras sekeras kerasnya membuat saya harus tersungkur, terkapar, dan jatuh ketempat yang paling bawah mungkin ribuan meter di perut bumi ( hmmm lebay deh). Untungnya saya bukan tipe orang yang punya nyali untuk bunuh diri (he he he ), tapi disaat kritis ini jangan diharapkan ada teman yang care… mencaci dan memaki banyak.. menghakimi seolah saya orang paling berdosa sedunia… menjauhi… kalo dihitung hanya 2 orang teman yang masih sayang… Tapi saya masih bisa bertahan karena ada dukungan  suami, anak, orang tua, saudara-saudaraku, masih beruntung deh… lagi-lagi kasih sayang dan cinta itu sanggup mengobati luka batin terparah sekalipun ciee.

Walau masa terkelam di ground zero itu telah berlalu, tapi ibarat bom bali tetap terasa kepedihannya apabila teringat kembali. Trauma, sedih, sakit, luka, malu, rendah diri, dan kesadaran bahwa memang saya salah. Sudah sepantasnya semua teman memperlakukan saya seperti narapidana sekelas Nusakambangan .. huh..dan tidak lagi mau kenal…huh lagi…tapi ya gimana lagi itu udah konsekwensi dari sesuatu yang kita kerjain dengan salah.Membela diri dan marah akan membuat saya semakin jauh terjatuh ke dasar perut bumi dan bertemu makhluk-makhluk aneh di bawah sana hiiii…

Bersyukurnya saya masih punya cinta dan kasih sayang, dari Tuhan Yesus, my beloved husband (si berang yang pemberang he he he), my beloved evania, my beloved mom and dad (biar kayak bule he he ), ya semua deh. How Lucky I’am …. yah… begitulah seandainya saya sebatangkara pasti udah terjun bebas deh di samudera indonesia (kejauhan) atau yang dekat di kali Porong di waktu banjir … halah….

Ya… the ground zero … adalah suatu keindahan bagiku sekarang… kalo dulu ya kayak kena gempa 100 skala richter deh… entah berapa ratus hari diwarnai tangis, sedih. dll dsb… ketemu orang ogah… menjadikan diri sebagai tahanan rumah… bener… kacau balau… but when i received the Healing Soul from Jesus Christ…. pemulihan yang berat, melewati seribu onak duri (hhh)

Pokoknya ngga ada deh pengalaman hidup sedahsyat ini lagi yang akan melanda hidupku lagi. Kuingin hidup yang lebih baik, penuh kesadaran, penuh makna dan nilai, walau kuharus memulai dari nol. Tapi menulis sangat mudah ketika menjalankannya sulit banget… ternyata kelemahan sebagai manusia masih kental…. sulitnya menyangkali diri… sulitnya tidak menuruti ego… sulitnya bergerak dari titik nol… sulitnya menyerahkan diri pada kehendak Tuhan… sulitnya untuk tidak marah… sulitnya untuk berkorban… sulitnya untuk memahami bahwa kita harus berbuat untuk orang lain sementara orang lain tidak mau tahu saat kita butuh…. sulitnya… sulitnya… sulitnya …. betapa banyak kesulitan dalam hidup ini…. but… kusudah sampai di tahap ini … so never been give up my soul….. ciao…

hmmm… kayaknya ini bakalan bersambung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s